::: SEMUA AKAN JADI INDAH PADA WAKTUNYA :::


aku minta pada Allah setangkai bunga segar…
tapi Dia beri aku kaktus berduri…

Aku minta binatang mungil nan elok.,
tapi Dia beri aku ulat berbulu…

aku kecewa…
aku marah…
aku benci..
aku protes…

betapa tidak adilnya Allah padaku..
betapa tidak adilnya hidup ini…

tapi……………..,

seiring berjalannya waktu, kaktus itu berbunga dan bunganya sangat indah..
dan ulat berpbulu itupun berubah menjadi kupu-kupu yang amat elok warnanya…

itulah sesungguhnya rahasia Allah..

” SEMUA AKAN JADI INDAH PADA WAKTUNYA…”

Dia tidak memberi apa yang kita harapkan,tapi Dia akan memberi apa yg kita butuhkan…

itulah gambaran diri kita,yang sering berkeluh kesah tatkala menerima pemberian dariNya yang tidak sesuai keinginan kita..
betapa sering kita menyia nyiakan nikmat pemberianNya hanya karena kita merasa semua itu tidak sesuai dengan keinginan kita…

Astaghfirullah… ampuni kami ya Allah…

Iklan

::: UPAH :::


Suatu hari seorang gadis bernama Fii datang menemui ummi nya dengan malu-malu. Fii membawa sebuah kertas di tangan kanannya yg sudah bertuliskan sesuatu.
Fii mendekati umminya yg terlihat sangat letih setelah seharian mengurus rumah tangga.. Fii menyodorkan kertas yg sedang di bawanya.

Ummi Fii menerima kertas itu dan membacanya,

“UPAH UNTUK FII”

– menjaga adik 15.000
– membuang sampah 5.000
– menyiram bunga 5.000
– menyapu lantai 10.000
– membantu ummi 15.000

total upah Fii 50.000

setelah membacanya, ummi fii tersenyum dan menuliskan sesuatu di balik kerts itu. Kemudian ummi Fii memberikan kerts itu kepada

“HARGA NILAI CINTA UMMI PADA FII”

– mengandung fii GRATIS
– mempertaruhkan nyawa untuk melahirkan fii GRATIS
– mendidik dan merawat fii GRATIS
– menjaga saat fii sakit GRATIS
– memberi makan dan menyayangi fii GRATIS

total harga cinta ummi untuk fii GRATIS

Setelah membacanya, fii memeluk umminya sambil menangis.lalu fii menuliskan sesuatu lagi di kertas itu,

” LUNAS”

” saudaraku,pantaskah kita meminta imbalan pada orang tua kita jika mereka saja tidak pernah menuntut imbalan atas semua kasih sayang mereka?

rabbighfirliy wa liwaalidayya warkham huma kamaa rabbayaaniy saghiira…”

::: BELAJAR DARI KUPU- KUPU :::


Senja yang sangat indah..
Seorang lelaki duduk di bawah pohon yang cukup rindang. Tiba tiba pandangan matanya tertuju pada sebuah kepompong yang menempel di sebuah dahan. Bayi kupu-kupu, sepertinya hendak keluar dari kepompong itu..

Satu menit…dua menit…
Kepompong itu terlihat mulai retak..
Bayi kupu kupu terus berusaha mengeluarkan diri dari kepompong itu..

Tiga menit..empat menit…
Hingga setengah jam berlalu,bayi kupu kupu itu tak juga berhasil keluar dari kepompong itu..
Gerakannya mulai melemah..

Si lelaki iba..tak tega melihatnya..
Secepat kilat ia beranjak mengambil gunting,dan menyobek kepompong itu,
Dan kemudian mengeluarkan bayi kupu kupu..

Diletakkannya bayi kupu kupu di tanah..berharap ia segera membuka sayap nya dan terbang seperti kupu kupu yg lainnya..

Tapi sayang..
Hal itu tak kunjung datang..
Bahkan sampai maghrib menjelang..

Kupu kupu itu tetap tak bisa membuka sayapnya dan tak mampu terbang..
Kupu kupu yang malang…
Ahirnya seumur hidup, si kupu kupu hanya bisa merangkak..
Tanpa bisa terbang seperti yang lainnya..

Si lelaki tak tahu.. bahwa perjuangan keras kupu kupu mengeluarkan diri dari kepompongnya adalah cara Allah agar cairan dari tubuh,mengalir ke sayapnya..
Sehingga ia bisa terbang setelah terlepas dari kepompongnya..

Itulah gambaran kita..
Allah memberikan ujian, memberikan tantangan.. untuk menjadikan kita kuat..
Tanpa ujian dan tantangan, kita tak kan jadi kuat..
Hanya bisa jadi org yg lemah… dan lemah..

Seperti kupu kupu yg ahirnya hanya bs merangkak..

Seekor kupu kupu harus berjuang keras mengeluarkan diri dari kepompongnya, jika ia ingin mendapatkan keindahan sayapnya,lalu kemudian bisa terbang dengannya..

Begitupun dengan kita..
Ujian bukan untuk melemahkan..
Justru untuk menguatkan..

^_^

Humaira fii hamra
Selasa,30032010, 18.02

 

::: KISAH SEPOTONG ROTI :::


Lelaki itu tampak kelaparan. Pagi tadi ia belum sempat sarapan. Tergesa gesa ia berangkat ke kampusnya karena ada ujian sampai tak sempat sarapan.

Hari sudah cukup siang. Pelan, ia memarkir sedan silver nya di depan toko roti. Ia pun turun membeli sepotong roti dan sebotol air mineral untuk mengganjal perutnya. Setelah membayar, ia langsung menuju sedan nya. Mama nya menelpon minta di jemput di Rumah Sakit. Namun ia urung membuka pintu mobilnya. Pandangannya tertuju pada seorang bocah kecil berpakaian lusuh. Sepertinya ia seorang pengamen. Bocah itu memegangi perutnya sambil meringis. Sepertinya ia kelaparan.

Lelaki itu iba. Di dekatinya bocah itu.
“ ini untukmu” Katanya sambil menyodorkan roti dan air mineralnya. Bocah itu terkejut dengan kedatangannya.
“ Roti dan air ini untukmu. Makanlah “ Kata lelaki itu sambil tersenyum dan duduk di samping bocah itu.

Bocah itu terlihat ragu.
“Kalau roti dan air ini untuk aku, kakak nanti makan apa?” Tanyanya sambil menatap wajah lelaki itu.

DEG!!!!!
Pertanyaan bocah itu menhunjam tepat di ulu hatinya. Keharuan tiba tiba menyelimuti hatinya. Ingin rasanya ia segera memeluk bocah di hadapannya itu. Betapa tidak..? Di saat ia sendiri kesusahan dan kelaparan, ia masih memikirkan orang lain. Tak seperti dirinya yg hidup serba kecukupan, namun jarang memikirkan orang lain.Lelaki itupun menangis.

“ Kakak kenapa menangis?” Tanyanya polos. Lelaki itu mengusap airmatanya.
“ Terimakasih dek.. kamu membuat kakak sadar. Selama ini kakak jarang memikirkan kesusahan orang lain. Padahal hidup kakak serba kecukupan. Sedangkan kamu… kamu sedang kesusahan..kelaparan.. tapi kamu masih memikirkan oranglain. Kakak malu dek.. “ Kata lelaki itu.

Bocah itu pun tersenyum.
“ Aku hanya mencoba untuk tidak egois kak.. Meskipun aku sendiri kelaparan, aku tidak boleh menyebabkan keegoisan. Aku tidak mau kesusahanku membuat susah orang lain. Aku tadi lihat kakak sepertinya kelaparan. Sangat tidak adil kalau aku memakan roti dan meminum air itu sedangkan kakak sendiri kelaparan.” Katanya.

Lelaki itu kembali meneteskan airmata. Subhanallah..ia semakin malu pada dirinya, yang jarang memikirkan kesusahan orang lain..

“ Bagaimana kalau roti dan air ini kita nikmati berdua? Insya Allah akan lebih nikmat” Kata bocah itu. Lelaki itu hanya mengangguk dan kemudian memeluk erat bocah di depannya itu..

**** Lihatlah ke seberang sana..
Seorang anak kecil tampak terlunta..
Kelaparan..
Kepanasan..
Tak ada satupun yg pedulikannya..

Ia juga berhak tersenyum..
Merengkuh kebahagiaan seperti yg lainnya..

Senyumnya sesungguhnya menyimpan duka..
Tapi tangisannya menyimpan bahagia..

Tahukah kenapa mereka tetap tersenyum dalam duka?
Karena mereka jauh lebih paandai bersyukur dibanding kita..

Meski kekurangan..
Kesusahan menyelimutinya,
Namun ia tetap bersyukur atas apa yg diberikanNYA..
Karena ia yakin bahwa ALLAH sangat menyayanginya..

Saudaraku..
Tegakah engkau melihatnya kehilangan senyumannya?
Tegakah engkau melihatnya dalam derita?

Ingatlah..
DALAM HARTA KITA ADA HAK MEREKA…****

^_^

Humaira Fii Hamra
Sabtu, 03042010, 20.34

::: SEPASANG SEPATU DAN SEPOTONG KAKI :::


“ Aku benci Abi..!! Abi Jahat..!! “ Kata Eishah sambil berlari keluar dari rumahnya.
“ Apa sih yang salah? Aku kan hanya minta sepasang sepatu baru. Uang Abi juga banyak. Lalu kenapa Abi nggak mau?? “ Pikirnya.
“BRAKK!!!!”
Eishah menutup pintu rumahnya keras keras. Abi hanya bisa mengelus dada melihat tingkah putrinya. Setetes airmata membasahi wajah tuanya.

Eishah menghapus airmatanya. Sediiiiiiiiiiiiiiih sekali rasanya. Ia hanya minta sepasang sepatu baru. Bukan minta mobil atau pesawat. Lalu kenapa Abi menolaknya?
“ Sepatumu masih banyak dan bagus bagua, Sayang.. Kenapa harus beli lagi?” Kata kata abinya terngiang kembali.
“ Sepatu ini model terbaru, Bi.. kalau nggak beli sekarang, mungkin besok besok sudah nggak ada lagi” Kata Eishah tadi.
Eishah menghela nafas. Ia terkejut. Seseorang menepuk bahunya. Eishah menoleh dan tercengang melihat siapa yang menepuk bahunya.

Sesosok gadis kecil seusianya tengah tersenyum padanya. Ia cantik.. manis..tapi, ia hanya punya satu kaki..!!! ia menggunakan penyangga untuk membantunya berjalan..

“ Kenapa kamu menangis?” Tanya nya. Eishah lalu menceritakan semuanya. Tentang Abinya yang tidak mau membelikannya sepatu baru.

“ Teman.. Abi mu benar.. tak seharusnya kau membeli sepatu baru walaupun uang abimu banyak. Kau masih punya banyak sepatu. Banyak dan bagus bagus.. Kau seharusnya bersyukur. Saat kau menginginkan sepatu, kau masih punya sepatu lain yg banyak dan bagus. Sedangkan org lain? Banyak dr mereka yg menginginkan sepatu, tapi mereka tak punya kaki..Kau masih punya kaki yg lengkap. Lihatlah aku. Aku hanya punya satu kaki. Tapi aku selalu bersyukur. Karena meski kaki kiriku nggak ada, aku masih punya kaki kanan. Di luar sana, banyak org tak punya kaki, tak punya tangan, namun mereka selalu bersyukur karena mereka masih punya akal, masih punya iman” Kata gadis berkaki satu itu dan kemudian dia berlalu.

Eishah termenung. Benar kata gadis itu. “ Ya Allah.. betapa aku tidak pernah mensyukuri karuniaMU… saat aku menginginkan sepatu, aku lupa bahwa masih banyak saudara saudaraku yang tak punya kaki. Ya Allah.. maafkan aku..”

“ Lain syakartum laaziidannakum wa lain kafartum inna adzaabiy lasyadiid….”

KETIKA KAU TERAMAT MENGINGINKAN SEPATU,
INGATLAH BAHWA MASIH BANYAK ORANG MENGINGINKAN KAKI..!!

Humaira Fii Hamra
Sabtu, 03042010,20.28

::: KETIKA PSK (Panji, Selly, dan Kiky) BERTEMU PSK (Pekerja Seks Komersial) :::


                                             (By :Humaira Fii Hamra)

 

Ini bukan dongeng dari negeri antah berantah, bukan pula kisah cinta dari negeri Cinderella. Ini kisah nyata, kisah kehidupan yang benar-benar ada. Kisah kehidupan yang nista, namun juga penuh dengan airmata di tengah ceritanya. Tidak jauh dari kita, karena kisah itu terjadi di kota kita, Solo tercinta.

Ketika PSK (Panji, Selly, dan Kiki) bertemu PSK (Pekerja Seks Komersial)

 

Catatan Panji.

Siang menjelang sore, saat matahari tak begitu menampakkan pesona panasnya. Di sepanjang jalan, kulihat beberapa orang, lebih tepatnya semua orang tampak memegang sesuatu berbentuk kotak seukuran genggaman tangan mereka yang mereka sebut sebagai handphone, sesuatu yang tidak aku punya. Aku menggeleng-gelengkan kepala, juga menggerakkan bibirku, membentuk sebuah senyuman merekah. Sesuatu berbentuk kotak yang orang-orang pegang itu, sebentar lagi aku akan memilikinya. Ya, aku akan membeli handphone.

Lembayung senja menuntunku sampai di Gilingan, sebuah daerah di Solo dekat dengan terminal Tirtonadi. Aku memutuskan untuk naik motor roda tiga (baca : becak), agar aku lebih bisa menikmati suasana sore di kota Solo ini. Suasana yang jarang bisa kunikmati karena kesibukanku sebagai mahasiswa.

“Mas, ajeng nginep mboten?[1] tanya tukang becak yang becaknya kunaiki. Aku tidak paham apa maksud perkataannya. Menginap? Memangnya aku mau kemana? Hanya beli handphone saja, kenapa harus menginap?

“Kalau mau menginap, biar saya antar, Mas. Cukup dengan 500.000, Mas nanti sudah dapat satu kamar dan juga bisa milih barang bagus. Asli barang impor.”

Sambung tukang becak sebelum aku sempat bertanya. Aku menggaruk-garuk kepalaku yang tidak gatal. Aku benar-benar tidak mengerti apa maksud tukang becak ini.

Ngapunten,Pak. Kulo mboten mudeng e.[2]

Kataku polos. Tukang becak itu sedikit tertawa.

“Ya sudah, Mas. Saya antarkan Mas kesana. Siapa tahu berminat. Barang-barangnya bagus kok mas.” Katanya. Aku hanya menurut saja. Toh, paling-paling tukang becak ini mau mengantarku ke pameran barang-barang impor yang diaadakan di sebuah hotel. Tapi betapa terkejutnya aku mendapati barang-barang impor yang dimaksud tukang becak tadi adalah para wanita penjaja! Ada rasa jijik menyeruak, namun ada juga rasa penasaran.

Dengan berlagak seperti seorang bos besar yang tengah haus akan belaian – kebetulan waktu itu pakaianku sangat mendukung – aku melangkahkan kaki menuju sebuah rumah yang memang dikhususkan untuk para wanita penjaja itu. Rupanya tempat itu memang sudah khusus untuk para wanita penjaja itu. Polisi juga sudah tahu sehingga tidak pernah melakukan razia disana.

Harga paling murah untuk ‘barang’ di tempat itu adalah Rp. 50.000,-. Ini karena ‘barang’nya masih asli Indonesia. Jadi masih terbilang cukup murah. Sedangkan ‘barang’ yang dari luar negeri, harganya berkisar mulai Rp.500.000,-. Ada yang china dan ada juga yang blasteran barat.

Aku hanya bisa mengelus dada. Rupanya di Solo banyak sekali para PSK. Mulai dari yang kelas teri sampai kelas kakap. Aku benar-benar tidak habis pikir. Tapi, bagaimanapun, aku tetap tidak bisa menghakimi mereka, meskipun hati ini miris dengan itu semua. Meski aku bukan asli Solo, tapi aku ingin Solo bersih dari para PSK (Pekerja Seks Komersial). Aku berharap suatu saat nanti Solo penuh dengan PSK (Perempuan Sholehah Kerudungan).

Catatan Selly.

“Mau beli apa mau dibeli, Mbak?”

Tanya sosok di hadapanku. Seorang lelaki gemuk dengan wajah yang menurutku penuh aura mesum yang teramat. Ingin rasanya kutampar wajah gembilnya itu. Tapi toh, tidak ada gunanya. Aku hanya diam dan melangkahkan kaki meninggalkan sosok itu meski dengan amarah yang masih sangat menggelayuti hatiku. Bagaimana tidak, aku yang sudah berpakaian serba tertutup dan berjilbab begini, kenapa masih digoda? Apa dia pikir aku ini gadis atas kerudung bawah warung? Aku benar-benar marah!

Ya, inilah aku. Orang-orang memanggilku Selly. Aku memang sudah terbiasa melihat hal-hal yang berkaitan dengan dunia mesum seperti itu. Tapi tetap saja aku jijik, bahkan sangat jijik.

Aku tinggal di Madegondo, Nampan, Grogol Sukoharjo. Rumahku berada di paling ujung, dekat dengan semak-semak dan jalan setapak yang sukup sepi (kalau sedang sepi). Iya, karena di jalanan itu, setiap maghrib menjelang, puluhan PSK sudah berkeliaran mencari para lelaki bejat yang siap mengoyak mahkota mereka. Karena hal itu, ibuku, selalu melarangku dan adik-adikku untuk keluar rumah setelah adzan maghrib.

Pernah suatu hari, aku pulang kesorean. Mau tidak mau, aku melewati jalan tempat para PSK itu. Di tengah perjalanan, aku melihat sesuatu yang tidak seharusnya aku lihat. Seorang PSK tampak melayani seorang lelaki di dalam mobil. Tidak hanya itu saja, aku juga pernah mendengar suara rintihan seorang perempuan dari balik semak-semak di sisi jalan itu dan ternyata suara itu berasal dari seorang PSK yang sedang dinikmati pelanggannya.

“Mbak, ini apa,to?”

Tanya adikku suatu hari saat kami sedang lari pagi. Dia menyodorkan sesuatu kepadaku. Aku terhenyak. Adikku menyodorkan kondom yang sudah dipakai. Aku mengambil kondom itu dari tangannya dan aku melangkahkan kaki menuju semak-semak tempat para PSK bercinta dengan pelanggannya. Benar dugaanku. Banyak sekali kondom dan tissue berceceran disana.

Menjijikkan! Hanya itu yang ada di pikiranku tiap aku melihat para PSK dan pelanggan setianya. Bahkan rasanya aku mau muntah tiap melihat para PSK itu duduk dengan wajah tanpa dosa di teras rumahku. Heran? Tidak percaya? Aku juga heran, tapi ini benar-benar nyata dan terjadi. Para PSK itu selalu berteduh di teras rumahku tiap hujan turun. Bahkan mereka tidak malu-malu lagi untuk berteduh dengan pelanggan mereka.

Pernah suatu malam, aku tidak bisa tidur. Entah mengapa mataku sulit sekali dipejamkan. Sayup-sayup, kudengar suara teriakan seorang perempuan. Seperti sedang ketakutan. Aku memberanikan diri untuk mengintip. Aku benar-benar terkejut, seorang perempuan tengah dikejar dua orang lelaki, seperti dipaksa untuk melayani mereka. Duh, Gusti, aku benar-benar sudah tidak tahan lagi.

Akhirnya aku sekeluarga pindah rumah ke Batik Keris karena kami sudah tidak tahan lagi dengan keadaan disana.

Bicara soal PSK tadi, bagiku, aku tidak akan pernah bisa membenarkan tindakan mereka, apapun alasannya. Meski mereka berkilah karena mereka terpaksa demi kebutuhan ekonomi mereka, aku tetap tidak bisa menerima. Itu bukanlah suatu kebenaran. Itu adalah suatu pembenaran! Kalau mereka mau berusaha, pasti bisa. Kata orang, banyak jalan menuju Roma. Para PSK, aku benar-benar menyayangkan keputusan kalian untuk melacurkan diri.

Kasihan kotaku. Kota nan indah ini rupanya menyimpat cacat yang tak tercatat.

 

Catatan Kiky.

“Pak, tumbas tempurane gangsal ewu.[3]

Kataku pada pedagang tempura di Manahan sore itu.

Aku sudah tidak tahan lagi untuk memendam ngidamku pada makanan yang satu ini. Di Magelang, kota asalku, aku tidak pernah menemui pedagang tempura. Sambil menunggu tempura digoreng, aku melihat sekeliling. Mencoba membaca suasana.

Entah mengapa, pandanganku tertuju pada seorang perempuan berjilbab yang sangat cantik tengah duduk di kursi taman sendirian. Sepertinya dia melamun. Setelah tempuraku matang, aku memberanikan diri untuk duduk di samping perempuan itu. Siapa tahu bisa jadi teman mengobrol.

“Lagi nunggu orang ya, Mbak?”

Tanyaku, sembari menyodorkan tempura di tanganku. Perempuan itu tersenyum dan menganggukkan kepalanya.

“Iya, Mbak,” jawabnya singkat.

Aku merasa perempuan itu sedang sedih. Benarkah dugaanku atau itu hanya perasaanku?

Sejurus kemudian, perempuan itu menundukkan kepalanya dan sayup-sayup terdengar suara isakan darinya. Aku terkejut bukan main. Perempuan itu menangis.

“Mbak, Mbak kenapa?”

Tanyaku. Aku bingung.

“Mbak, apa saya bisa masuk syurga?”

Begitu tanyanya. Aku tersenyum bingung. Mana bisa aku memastikan dia bisa masuk syurga atau tidak. Aku sendiripun tidak tahu apakah aku nanti bisa menjadi salah satu warga syurga atau tidak. Tapi, aku mencoba menjawab pertanyaan perempuan itu.

“Tentu saja siapapun bisa, Mbak,” kataku.

“Kalau menurut Mbak, pelacur yang tetap shalat dan mengaji, bisa masuk syurga tidak?” tanyanya.

Aku terhenyak. Pelacur yang tetap mengaji dan shalat? Memangnya ada?

“Maksud Mbak?” tanyaku.

Perempuan cantik itu kembali menundukkan kepalanya.

“”Saya ini pelacur, Mbak. Saya ini perempuan kotor.”

Katanya lirih. Kali ini aku tidak hanya terhenyak. Aku bahkan merasa seperti tersengat listrik. Wajah ayu dengan balutan jilbab di sampingku, ternyata seorang pelacur. Salahkah pendengaranku?

“Mbak pasti tidak akan percaya karena saya berjilbab. Tapi saya memang benar-benar pelacur, Mbak.”

Isakannya makin terdengar. Beberapa pasang muda mudi yang tengah mengumbar kemesraan lewat di depan kami. Mereka menoleh sejenak. Mungkin melihat atau mendengar perempuan di sampingku menangis.

“Kenapa Mbak jadi pelacur?” tanyaku. Sayang, pertanyaan itu hanya terucap di hatiku. Aku masih dilenakan oleh rasa keterkejutanku.

“Saya tidak punya pilihan lain, Mbak. Suami saya pergi. Padahal saya punya anak kecil yang butuh susu. Harga susu sekarang mahal, Mbak. Saya juga masih harus mengurusi Ibu dan adik-adik saya. Saya tidak punya pilihan lain, Mbak.” Kata perempuan itu di sela-sela tangisnya. Seolah dia bisa mendengar pertanyaan yang tersimpan di hatiku.

Aku masih belum bisa mengeluarkan sepatah katapun.

“Jujur saya takut, Mbak. Saya tahu melacur itu dosa. Saya ingin berhenti tapi tidak bisa. Kebutuhan ekonomi terus mengejar saya. Saya benar-benar takut, Mbak. Makanya saya tetap berusaha menjalankan shalat lima waktu. Juga mengaji dan mengikuti pengajian. Tapi apakah semua itu bisa membuat Gusti Allah memaafkan saya?” Tanyanya. Mutiara-mutiara bening masih terus bercucuran di wajah cantiknya.

“Mbak, Mbak yang sabar, ya. Ini ujian untuk Mbak. Saya yakin Mbak akan menemukan jalan keluar yang…” Suara klakson mobil memotong perkataanku. Tapi sebenarnya bukan karena suara klakson mobil itu perkataanku terhenti, melainkan karena perempuan tadi langsung berdiri setelah mendengar klakson dari mobil Avanza hitam yang tiba-tiba muncul.

Seorang laki-laki dengan wajah oriental  membuka kaca mobil dan memberikan isyarat pada perempuan tadi untuk segera mendekat ke mobilnya.

“Maaf, Mbak. Yang saya tunggu sudah datang.” Begitu katanya dan langsung masuk kedalam mobil lelaki  itu.

Sampai mobil itu menghilang, aku masih tercengang. Seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja aku alami. Ada rasa kesal menggelayuti, namun ada pula keharuan dan kekaguman menyelimuti. Aku kesal, mengapa perempuan itu memutuskan untuk menjual tubuhnya. Tapi aku terharu. Meski dia pelacur, dia tetap rajin beribadah.

Aku menuliskan sesuatu di benakku. Perempuan tadi, terlepas dari dosa melacurkan diri yang dia lakukan, dia tetap PSK (Pekerja Seks Komersial) sekaligus PSK (Perempuan Setangguh Karang). Demi anaknya, demi ibunya, demi adik-adiknya, dia rela mngorbankan dirinya.

Sebait doapun terucap untuknya. Tulus dari hatiku untuknya. Semoga Allah mengampuninya dan segera menunjukkan jalan terbaik baginya. Aku teringat dengan kisah seorang pelacur pada zaman Nabi yang dijanjikan masuk syurga karena menolong anjing yang sekarat. Aku berharap, semoga perempuan tadi juga bisa masuk syurga seperti apa yang diinginkannya, begitu juga semoga akupun bisa masuk syurga.

Mutiara-mutiara bening kini mengalir pelan di pipiku.

Kartasura, Rabu, 13 Juli 2011, 22.09

 

Di tengah deru airmata yang kembali meleleh di pipiku saat anganku melayang, teringat perjumpaanku dengan seorang PSK setangguh Karang di suatu sore di Manahan Februari 2011. Semoga Allah selalu menjagamu, Mbak.

[1] Mas, mau menginap tidak?

[2] Maaf, Pak. Saya tidak paham.

[3] Pak, beli tempuranya lima ribu.