::: SYARAT WANITA DINIKAHI :::


Suatu hari.. saya dan saudara saudara berkumpul diruang tengah dan bercakap cakap tentang hal seputar pernkahan. apalagi kita semua jarang bertemu karena memang terpisah jarak yg cukup jauh.akibatnya ruang tengah terdengar seperti pasar karena saking ramainya.

nah,kebetulan saat itu yg berada diruang tengah,sayalah satu satunya perempuan yg belum menikah..jadi saya yg selalu kena sasaran..
salah satu saudara membacakan sebuah hadis tentang syarat wanita dinikahi,

” tunkahul mar’atu liarba’in.. limaaliha walihasabiha, walijamaliha,wa lidiiniha.

wanita dinikahi karena 4 hal, karena hartanya, karena nasabnya,karena kecantikannya, dan karena agamanya.”

” menurut saya, syarat ini masih kurang satu lagi.” katanya. Kami semua langsung protes. kan hadisnya memang hanya 4 syarat itu.

” coba kamu nduk, kamu kan belum nikah. syaratnya kurang apalagi?” tanyanya pada saya. saya hanya menggeleng.saya juga tahunya cuma 4 itu.

” seharusnya syaratnya ada 5. yaitu limaliha (karena hartanya), lihasabiha ( karena nasabnya),lijamaliha (karena kecantikannya), lidiiniha (karena agamanya), dan satu lagi yaitu liiradatiha ( karena kemauannya).

sekarang kalau si perempuannya nggak mau, kan dia nggak jadi dinikahi” begitu katanya sambil tertawa.

kami semua terdiam dan berpikir. ahirnya kami semua tertawa menyadari apa yg dikatakannya betul juga meskipun bercanda^^

kalau perempuannya nggak mau, ya nggak jadi dinikahi hehe^^

Iklan

::: TANYALAH PADA YANG TAHU JIKA ENGKAU TIDAK TAHU :::


Suatu hari, Ditengah tengah mata pelajaran Ushul Fiqh, (saat itu saya berada di tingkat 4),seluruh santri di kelas saya terserang ngantuk berat. Tiba tiba Ustad Ahsanuddin Bakrun berkata bahwa sesungguhnya segala sesuatu di dunia ini sebenarnya sudah dijelaskan dalam Al Quran. Semua sudah ada ayat yg menjelaskanya. Termasuk ayat tentang cara membuat pesawat terbang dan almari (nggak tahu kenapa saat itu beliau memilih pesawat terbang dan almari^^)

Semua santri dikelas saya tampak kebingungan termasuk sayaTiba tiba rasa kantuk jadi hilang. Rasa rasanya saya tidak pernah menemukan ayat yang menjelaskan tentang cara membuat pesawat terbang dan almari. Ustad kemudian menanyai kami satu persatu tentang bunyi ayat tersebut. Tak ada satupun yg bisa menjawabnya. Tiba giliran saya, saya juga sama sekali tidak bisa menjawab. Wong menemukan saja belum pernah,, ^^

Lalu saya bilang kalau sepertinya tidak ada ayat yg menjelaskan tentang cara membuat pesawat terbang dan almari. “ Jadi kamu meragukan kalau semua hal didunia ini sudah dijelaskan dalam al quran?” Kata beliau. Saya hanya diam nyengir. Agak sebel juga. Soalnya selama ini saya memang belum pernah meemukan ayat seperti tu.

Sekitar seperempat jam kami semua masih terdiam memikirkan ayat tersebut. Akhirnya ustad bilang bahwa ayatnya berbunyi,
( FAS’ALUU AHLADZ DZIKRI IN KUNTUM LAA TA’LAMUUN__ Bertanyalah pada yg tahu jika kamu tidak tahu )
Kami semua bingung.” Lho… kok ayat nya itu? Mana cara buat pesawatnya?” celutuk salah satu santriwan.
“Kalian rupanya tidak cerdas.Ini akibatnya kalau mengantuk dikelas. Sekarang kalau kalian mau tahu cara membuat pesawat dan almari sedang kalian tidak tahu caranya, ya kalian harus bertanya pada yang tahu. Iya kan? dan ayat nya ada dalam al quran. Tanyalah pd yg th jika kamu tdk tahu.” Jelas Ustad sambil berjalan ke meja beliau.

Semua santri hanya mengucap “ CAPE’ DEH…”

Tapi ada benarnya juga ya ^_^. Dan seketika rasa ngantuk pun hilang seketika!! ;-D

::: SETITIK UJIAN DI PERJALANAN PULANG :::


Rabu, 4 November 2009.

Phew..Solo Panasnya Masya Allah.. Hari ini rencananya aku mau pulang ke Magelang. Nggak sabar rasanya nunggu pulang sampai idul adha nanti. Entah..tapi tiba tiba aku merasa begitu rindu dgn Ummi,Abi,wa Adek.Rencananya Setelah Mata Kuliah Writing Pukul 10.30, aku mau langsung pulang biar sampai magelang gak kesorean. Soalnya kalau sudah diatas jam 5, sudah nggak ada angkot yg naik sampai ke daerahku. Maklum sih.. aku kan anggun alias anak nggunung hehe rumahku di kaki gunung sumbing. Jadi jarang ada angkot yg sampai atas kalau sdh sore.

Ternyata hari itu ada latihan untuk final exam mata kuliah English Drama sampai dhuhur. Aku Yang ceritanya ditunjuk sbg sutradara sama dosen Drama,( sst..kayaknya pas milih dosennya ngantuk deh hehehe ) Mau tidak mau aku harus pulang setelah dhuhur nanti. Harus ikut mengarahkan latihan itu.Ehm..alamat bakalan nggak dapat angkot nih.. huuh..

Pukul 12.00, Aku sudah di jalan raya nunggu Bis Solo Jogja. Tadinya mau pakai PATAS, tapi kelamaan ah kalau hrs keterminal dulu. Hemat Waktu Buu^^ Tapi sampai pukul 12.30 an,belum ada Bis Solo Jogja yang nongol Padahal puanasnya..duh.. Ahirnya tuh Bis datang juga. Tapi, Nggak dapat tempat duduk. Jadi harus berdiri. Padahal energi sudah cukup terkuras.Dari pagi belum sempat makan!! duuh.. sabar..
Phew..ahirnya sampai boyolali, aku bs duduk juga.Alhamdulillah^_^ Perjalanan Lancar sampai jogja.

Sampai di Giwangan, ganti Bis Magelang Semarang. Tiba Tiba Ada konser band bis alias ada pengamen. Berhubung sudah sangat lelah, aku ketiduran. Eh..si pengamen bangunin aku minta uang. Mana mereka syerem syerem bgt tampangnya.tapi krn ngantuk,aku cuek saja. Eh..dengan sangat tidak sopannya, si pengamen narik jilbabku!! Maksa minta uang. Aku yg saat itu sdh sangat lelah, kontan saja langsung marah. Aku langsung menarik jilbabku lagi trs berdiri “ Hey mas..nggak sopan bgt sih..BLA BLA BLA BLA BLA!! Si Pengamen kaget. Mungkin nggak nyangka kalau aku berani sama mereka. Soalnya td yg didepanku juga dipaksa untuk kasih uang.hehehe duh..astaghfirullah.. maafin aku ya Allah.._^

Sampai di terminal magelang, jam sdh menunjukkan pukul 5 sore. Lihat lihat sekeliling cari angkot biru no.8. Ternyata nggak ada. Berarti harus nunggu lagi nih. Duuh.. pasti nanti sdh nggak ada angkot yg ke daerahku.ehm.. Oya, minta jemput Abi ah.. tut.. tut..tut.. Telfon nggak diangkat. Telfon Adek juga nggak diangkat. Duh..gimana nih?? Tiba tiba ada sms dari Ummi. Katanya nggak ada yg bs jemput. Abi lagi nggak di rumah. Adek juga lagi ketempat sepupu. Parahnya, kata Ummi Jalan ke rumahku sedang diperbaiki. Jadi jalan nya ditutup untuk kendaraan. Katanya, nanti berarti aku harus jalan dr jalan raya ke rumahku!! Whaaaaaaaaat??? Aku langsung lemas… Bayangkan, aku harus jalan melewati tiga desa!! Ada ojek sebenarnya..tapi kan ttp saja nggak ada gunanya.kan jalannya ditutup. Allah.. Gimana Nih??

Pasrah dan mencoba nggak mengeluh.. Ehm.. Hanya itu yg bisa aku lakukan. Ahirnya angkot datang juga dan lancar sampai berhenti di PERDANA. Dr perdana, aku hrs naik angkot lagi. Ternyata benar, angkot yg ini hanya sampai daerah BESERAN. Jadi nggak sampai daerahku. Duh,gpp deh.. Pikirin naanti.
Sampai di beseran, aku Cuma bengong. Bingung nih gimana. Padahal sudah setengah Enam lebih. Berdoa.. semoga ada angkot atau bis yg ke atas.. Hampir pukul 6.. Ahirnya datang juga. Tapi sayang, yg datang bukan angkotnya. Tapi Hujan!! Masya Allah.. padahal aku nggak bawa payung.. Buru buru berteduh deh.. Ehm.. Ahirnya Di tengah tengah hujan deras, sang angkot datang juga.. Alhamdulillah.. basah2 dikit deh. Tp gpp.. yg penting sampai rumah^^

Perjalanan Lancar. Hujan pun sudah berhenti. Aku turun dr angkot dan ternyata sudah ,maghrib.. Aku Lemas.. maghrib sudah tiba. Tapi aku masih harus berjalan melewati tiga desa untuk sampai ke desaku dgn jalan kaki. “ Mbak, Nggak dijemput Abinya to?” Tanya orang2 disitu. Aku hanya tersenyum dan menggeleng.” Tadi Pak Abdullah lewat sini lho mbak. Kirain jemput Mbak..” Kata seorang ibu yg aku nggak tahu namanya. Lagi lagi hnya bisa tersenyum.

Ehm..coba telfon lagi ah.. siapa tahu Abi sdh dirumah. Wah..ada suara diseberang sana, “ sisa pulsa anda tdk cukup untuk melakukan panggilan ini…..” Ya Allah..ternyata pulsaku habis!! Ahirnya aku hanya pasrah dan berjalan.. Pengen teriak.. pengen ngeluh.. tapi toh semua itu nggak ada gunanya. Malah hanya nambah nambahin capek^^ kan katanya hadapi semua dgn ihlas dan senyuman hehehe ^ ^ Bismillah.. Aku mulai melangkah di malam mulai gelap. Ujian belum berhenti disitu. Hujan tiba tiba turun lagi walau tak sederas tadi. Udara juga semakin dingin.. Tahu sendiri kan gimana dingin nya udara di daerah pegunungan??? Ehm.. coba saja tadi aku bawa jakeet.. duh.. Ups.. tapi nggak boleh ngeluh.. Bismillah.. Aku nggak mau jadi Akhwat yg lemah dan cengeng!! Bismillah.. harus kuat jalan di jalan yg semuanya menanjak!! Allahu Akbar..

Alhamdulillah.. ahirnya dgn tubuh yg basah kuyup, sekitar pukul 7 aku sampai rumah juga. Ummi sdh menunggu di depan rumah dgn cemas. Katanya aku di telfon nggak bisa. Ups, ternyata hp ku mati. Batere hbs^^

Yach.. sedikit ujian yg diberikan Allah di perjalanan pulang kemarin.. Sungguh.. rasanya betul betul SUPER DUPER LEGA ketika ahirnya aku bisa sampai rumah setelah melewati semuanya. Berbeda dgn ketika aku pulang dgn jalan yg lancar2 saja.. Yach.. Walaupun Di rumah cuma sebentar.. Soalnya Jumat Sudah harus ke Solo Lagi^_^

Subhanallah.. Ternyata Ujian itu sebenarnya indah.. ketika kita berusaha untuk menjalaninya^^ Saat kita akan meraih sesuatu, tentu banyak sekali ujian yg akan kita hadapi. Dan saat kita bisa mencapainya dgn usaha kita melewati ujian itu, Subhanallah.. rasanya indah sekali..^^ Seandainyapun tdk berhasil,yg pasti kita sdh berusaha. Kan Allah melihat poada usahanya, Bukan hasilnya..

Bismillah.. Yuk kita buktikan kl kita adalah Ummat Yang Kuat!! ^^ Terimakasih Allah.. ^_^

::: LANGIT PUN MENANGIS, MELIHAT SALAH SATU BIDADARI ALLAH DI DUNIA BERHASIL KUAMBIL :::


Assalaamualaikum Warahmatullah Wabarakatuh..

Pukul 7 Pagi, Humaira telah bersiap menuju Fak.MIPA UNS Untuk mengikuti kajian akbar “ MERAIH CINTA HAKIKI MENUJU KELUARGA RABBANI” Bersama Ustad Hatta Syamsuddin dan Ust.Sallim.A Fillah ( Penulis Buku Nikmatnya Pacaran Setelah Pernikahan ).

Meskipun Ust.Sallim agak telat gara gara ketinggalan kereta,Alhamdulillah.. Kajian yang sangat bermanfaat ini pun berjalan lancar dan sangat seru..

Begini kira kira petikan isinya..

Ust. Sallim pun bercerita,tentang kisah pernikahannya dulu.dengan sang istri ( ustadzah Dwi Indah Ratnawati). Ust. Tampan ini ( ups ^_^) ternyata sudah mulai memikirkan pernikahan sejak beliau masih kelas 1 SMA. Kelas 1 SMA, beliau mulai membaca buku buku pernikahan, karena beliau mempunyai target menikah di semester 4 saat kuliah nanti. Kelas 2 SMA, Beliau mulai membaca buku buku tentang parenting, dan akhirnya semester 4 kuliah, saat usia beliau menginjak 20 th, beliau pun menikah.

Ust. Mengakui bahwa pada ssat itu, beliau juga sangat ingin berpacaran. Sama dengan kebanyakan anak muda lainnya. Tapi beliau ingin berpacaran yang tidak menimbulkan dosa. Inilah yang menginspirasi beliau menuliskan buku Nikmatnya Pacaran Setelah Pernikahan ( NPSP). Dan Kata Ust, ini cukup menjadi beban krn saat menulis buku NPSP, Beliau belum menikah.

Setelah melobi dan bernegosiasi dgn usaha keras pada org tuanya, akhirnya org tua beliau pun mengijinkan beliau menikah.Ust pun berproses dengan seorang akhwat dengan perantara murabbi. Pertemuan pertama, keduanya hanya diam tanpa kata. Kata ustad si akhwat hanya menundukkan kepala, dan ustad tidak berani menatapnya.

“ Tapi saya beruntung, karena meja nya ternyata terbuat dari kaca. Jadi walaupun menunduk, saya ttp bisa melihat wajah calon istri saya ‘ Kata ustad. Kami pun menyorakinya.

Pertemuan kedua, si akhwat bertanya hal yg menurut ustad “ sangat berat” bagi ust. Yaitu ttg visi misi menikah, bagaimana nanti akan mendidik anak, mau diformat seperti apa rumah tangga nantinya, dll. Ustad pun menjawab dgn lancar katanya.

Lalu dengan malu malu, si akhwat mengakui sesuatu,

“ afwan, saya tidak bisa memasak “ begitu katanya.” Saya kaget, tapi saya coba untuk menerima. Saya jawab, tidak apa apa, krn saya mencari istri, bukan mencari tukang masak. Toh nanti bisa belajar “ Kata ustad. Si akhwat kembali mengakui sesuatu

, “ afwan, saya jg tdk terbiasa mencuci.” Ustad kembali kaget, tapi ustad pun menjawab sama, bahwa yg beliau cari adalah istri, bukan tukang cuci. Lalu beliau menasehati peserta ikhwan,

“ para ikhwan, jgn dikira ketika menikah tugas istri itu hanya memijati kita, mencucikan, memasakkan. Tapi kita juga harus belajar mengertinya, adakalanya kita manja, tapi adakalanya juga kita memanjakan dia. Saya dan istri saya pun belajar bersama, hingga akhirnya Agustus 2004 saya menikahinya dalam keadaan dia tdak bs memasak, tapi 17 Agustus 2005, istri saya juara 1 lomba memasak. Ini karena kemauan belajarnya untuk bs memasak begitu kuat” Kami pun memberikan tepuk tangan.

Tiba saat lamaran, dari Jogja,keluarga ustad datang ke rumah si calon istri. Kata ustad,

“ sampai sana, saya melihat keluarga calon istri saya wajahnya seram seram. Ketika saya beranikan bertanya, ternyata mereka sudah kelaparan gara gara menunggu kami yang dari jogja” Kamipun tertawa mendengarnya.

“ Orang tua si calon istri ternyata belum sepenuhnya menyetujui pernikahan kami. Beliau kembali menasehati bahwa saya disuruh menunggu beberapa tahun lagi setidaknya sampai lulus kuliah. Saya tetap bersikeras dan saya mengatakan kalau bapak tidak setuju, ya sudah tidak apa apa. Nanti pulang dari sini saya bisa mencari calon mertua lain.

Keluarga calon istri saya kaget dgn jawaban saya, tapi untungnya calon mertua saya bersikap bijak. Beliau bilang saya ini makhluk langka dan harus dilestarikan “ kami kembali tertawa.

Tiba hari ijab kabul..

“ Penghulu bertanya siapkah saya menikah dengan memenuhi semua kebutuhan istri saya. Saya jawab, menikah hanyalah pengalihan tanggung jawab saja. Insya Allah saya sanggup memenuhinya. Tapi saat itu juga saya baru tahu kalau ternyata SPP per semester istri saya adalah 4,5 juta. Saya langsung merasa begitu berat untuk melakukan ijab kabul.

Tapi kemudian saya ingat bahwa Rasulullah dan para sahabat selalu memejamkan mata ketika akan melakukan suatu hal yang berat. Sayapun melakukan ijab kabul dengan memejamkan mata, dan berharap akan ada keajaiban setelah saya membuka mata. Sambil memejamkan mata, dalam hati saya pun berdoa, Ya Allah, hamba yakin Engkau akan mempermudah jalan bagi hambaMU Yang menyegerakan menikah demi menjaga kesucian jiwa. Maka permudahkan jalan Hamba.

Dan ketika saya membuka mata setelah selesai mengucapkan ijab kabul, tiba tiba hujan turun begitu deras. Saya pun yakin, hujan ini adalah anugerah, hujan ini adalah tanda bahwa langit pun menangis melihat salah satu bidadariNYA Berhasil saya ambil……” jelas ustad sambil meletakkan microphone nya didiringi tepuk tangan dan lantunan tasbih dari kami para peserta.

Subhanallah.. begitu indah kisah ustad satu ini..

Kamipun terkagum kagum dibuatnya, dan kami semakin kagum lagi ketika tahu bahwa ketika menikah, ternyata ustad Sallim batu menginjak 20 th dan sang istri berusia 22 tahun.. ( Ustad kelahiran 1984, istri kelahiran 1981).

Di akhir kajian, ustad Sallim dan Ustad Hatta bercanda dgn berkata,

“ Setelah kalian keluar dr kajian ini, kami tidak tanggung jawab lho ya kalau kalian jadi ingin menikah” dan kamipun riuh rendah menyorakinya ^_^

Subhanallah…

Semoga bermanfaat,

^_^

( Fii Hamra, 23052010)

::: PINK HOUSE: KETIKA IBLIS BERPESTA DANSA :::


Malam temaram, di bawah sinar purnama yang benderang, meski lampu-lampu semua padam. Pepohonan bergerak-gerak, melenggak-lenggok layaknya penari mistis yang menari-nari di atas tanah pekuburan dengan lulur darah yang membaluti sekujur tubuhnya, dengan musik akustik yang berasal dari suara jeritan mencekam dan lolongan serigala.

Nyanyian syetan kembali membelaiku, membangkitkan bulu kudukku yang tengah sendirian bergelut dengan malam. Tanpa teman, satupun. Kutuntun mataku menatap kamar berukuran 3 x 3  yang sudah hampir setahun menjadi peraduanku. Bayangan baju yang tercipta karena cahaya lilin kecil yang hanya tinggal separuh, ikut berkontribusi menciptakan suasana bertema kengerian.

Aku mendesah, keringat dingin mulai membanjiri tubuhku. Suara kaleng yang jatuh menggelinding mengagetkanku, membuatku bangkit dari kasur busa empukku. Rasa takut semakin menyeruak, seiring terdengarnya suara-suara aneh, suara langkah-langkah kaki yang tampaknya berasal dari tangga lantai dua. Aku menghibur diri, mungkin penghuni kamar di lantai dua hendak ke kemar mandi. Sayang, hiburanku tidak berhasil, sebab, penghuni kamar di lantai dua tengah pulang ke kampung halaman. Aku benar-benar sendirian!

Langkah-langkah kaki itu kian terdengar, bahkan kini iramanya mulai beraturan, seperti suara hentakan kaki sepasang kekasih yang tengah asyik bersalsa ria, atau mungkin tengah berjive ria, atau bahkan berrumba ria. Kuberanikan diri keluar dari pelukan selimut tebal, menyeruak segala rasa ketakutan untu kenuju tangga demi sebuah pembuktian dengan lilin menyala di tangan. Sayang, suara itu tiba-tiba saja menghilang.

Aku mendesah, kupandang pintu kamar mandi yang terbuka, tepat di depan tangga lantai dua. Terbayang seorang perempuan dengan punggung bolong, dengan rambut panjang, dengan pakaian putih, persis seperti artis lawas Suzanna yang memerankan kuntilanak. Kutolehkan kepalaku, memandang tangga di belakangku. Dalam benakku, suara langkah-langkah kaki tadi pastilah berasal dari hantu binal tanpa kepala yang sengaja menakuti manusia, mencari lelaki bejat yang dulu memerkosanya, hingga membuatnya hamil dan melahirkan di kuburan sebelum akhirnya dia meninggal. Namun segera kutepis pikiran itu, karena hal seperti itu sejatinya hanya terjadi di film-film horor kelas murahan.

Kulangkahkan kembali kedua kakiku, menyeruak kegelapan, kembali menuju hangatnya peraduan. Tapi suara langkah kaki yang lebih mirip suara hentakan kaki sang penari salsa itu kembali terdengar. Rasa takutku mulai berkurang. Jujur aku lebih takut dengan segerombolan iblis berwujud lelaki yang sering mencari perhatian di depan rumah kontrakanku. Jika dibacakan ayat kursi, iblis betulan pasti akan lari, tapi iblis berwujud lelaki? Bukannya lari, justru dia akan menirukanku membaca ayat kursi.

Kini aku mulai terbiasa dengan suara hentakan-hentakan kaki itu. Bahkan kini hentakan itu mulai berteman dengan suara nyanyian, senandung seorang wanita yang begitu menyayat. Mungkin di negeri iblis, ada juga iblis yang pandai seriosa. Suara tawapun kadang ikut terdengar, juga suara tangisan kepedihan, tapi kini ketakutanku benar-benar sudah hilang. Bahkan ketika aku sendirian, aku menganggap suara-suara aneh itu sebagai teman, penghiburku di tengah kesunyian saat penghuni kontrakan lain pulang ke kampung halaman.

“Kamu nggak takut, Mbak, sendirian di kontrakan? Dulu tempat itu bekas kuburan,” begitu kata tetangga sebelah kontrakanku.

Hanya senyuman kecil yang menjadi jawaban atas pernyataan tetanggaku itu. Bekas kuburan? Pantas saja, banyak suara-suara aneh yang bergentayangan.

Enggak, Mbak. Aku sudah berteman kok sama mereka,” kataku kemudian, mengundang sebuah keterkejutan.

Jika dilihat dari bangunan fisiknya, kontrakanku yang bernama Pink House itu memang tidak layak disebut sebagai rumah hantu. Siapa sangka rumah sebagus itu ternyata adalah bekas kuburan, tempat para iblis bermain hentak-hentakan, tempat iblis konser seriosa dan tempat iblis mementaskan drama tangis kepedihan. Jauh berbeda dengan sebuah rumah hantu di depan rumahku. Dari bangunan fisiknya, rumah itu memang benar-benar rumah hantu, rumah yang super kotor, reyot dan tak terurus. Tapi tidak pernah aku mendengar suara-suara aneh dari rumah itu.

“Hum, suara apa itu?” tanya temanku yang kebetulan tidur di kamarku.

Mungkin dia mendengar suara hentakan kaki, atau suara nyanyian, tawa dan tangisan.

“Iblis lagi pesta dansa,” jawabku, berhasil membuatnya bingung.

Aku selalu menjawab seperti itu, setiap ada yang menanyaiku perihal suara-suara aneh itu. Begitupula dengan penghuni kontrakan yang ketakutan setengah mati saat pertama kali mendengarnya.

“Tidak apa-apa, itu hanya suara iblis lagi pesta dansa,” begitu selalu hiburku.

Begitulah, bahkan sampai sebulan lalu, sebelum aku pindah dari kontrakan itu, suara-suara itu masih setia menemani kesendirianku. Sebuah yayasan berniat mengontrak rumah yang kutempati sejak aku semester 1 sampai aku semester 8 ini dengan harga 12 juta/ tahun, tiga kali lipat dari harga dariku yang hanya 4juta/tahun. Tentu saja, pemilik rumah dengan ikhlas melepas rumah itu untuk yayasan kaya itu.

Kadang, rindu juga aku dengan ‘teman-teman’ misteriusku. Aku merindukan suara-suara hentakan indah itu. Sepertinya ‘teman-teman’ku itu memang pandai bersalsa, juga berdansa ala jive dan rumba.

‘Teman-teman’, semoga kalian kerasan disana dan semoga para penghuni baru tidak takut saat mendengar kalian berpesta dansa.

Humaira Fii Hamra

Di bawah kucuran hujan, di tengah malam, saat para iblis di Pink House mungkin sedang berpesta dansa.