Posted on

::: KETIKA PSK (Panji, Selly, dan Kiky) BERTEMU PSK (Pekerja Seks Komersial) :::


                                             (By :Humaira Fii Hamra)

 

Ini bukan dongeng dari negeri antah berantah, bukan pula kisah cinta dari negeri Cinderella. Ini kisah nyata, kisah kehidupan yang benar-benar ada. Kisah kehidupan yang nista, namun juga penuh dengan airmata di tengah ceritanya. Tidak jauh dari kita, karena kisah itu terjadi di kota kita, Solo tercinta.

Ketika PSK (Panji, Selly, dan Kiki) bertemu PSK (Pekerja Seks Komersial)

 

Catatan Panji.

Siang menjelang sore, saat matahari tak begitu menampakkan pesona panasnya. Di sepanjang jalan, kulihat beberapa orang, lebih tepatnya semua orang tampak memegang sesuatu berbentuk kotak seukuran genggaman tangan mereka yang mereka sebut sebagai handphone, sesuatu yang tidak aku punya. Aku menggeleng-gelengkan kepala, juga menggerakkan bibirku, membentuk sebuah senyuman merekah. Sesuatu berbentuk kotak yang orang-orang pegang itu, sebentar lagi aku akan memilikinya. Ya, aku akan membeli handphone.

Lembayung senja menuntunku sampai di Gilingan, sebuah daerah di Solo dekat dengan terminal Tirtonadi. Aku memutuskan untuk naik motor roda tiga (baca : becak), agar aku lebih bisa menikmati suasana sore di kota Solo ini. Suasana yang jarang bisa kunikmati karena kesibukanku sebagai mahasiswa.

“Mas, ajeng nginep mboten?[1] tanya tukang becak yang becaknya kunaiki. Aku tidak paham apa maksud perkataannya. Menginap? Memangnya aku mau kemana? Hanya beli handphone saja, kenapa harus menginap?

“Kalau mau menginap, biar saya antar, Mas. Cukup dengan 500.000, Mas nanti sudah dapat satu kamar dan juga bisa milih barang bagus. Asli barang impor.”

Sambung tukang becak sebelum aku sempat bertanya. Aku menggaruk-garuk kepalaku yang tidak gatal. Aku benar-benar tidak mengerti apa maksud tukang becak ini.

Ngapunten,Pak. Kulo mboten mudeng e.[2]

Kataku polos. Tukang becak itu sedikit tertawa.

“Ya sudah, Mas. Saya antarkan Mas kesana. Siapa tahu berminat. Barang-barangnya bagus kok mas.” Katanya. Aku hanya menurut saja. Toh, paling-paling tukang becak ini mau mengantarku ke pameran barang-barang impor yang diaadakan di sebuah hotel. Tapi betapa terkejutnya aku mendapati barang-barang impor yang dimaksud tukang becak tadi adalah para wanita penjaja! Ada rasa jijik menyeruak, namun ada juga rasa penasaran.

Dengan berlagak seperti seorang bos besar yang tengah haus akan belaian – kebetulan waktu itu pakaianku sangat mendukung – aku melangkahkan kaki menuju sebuah rumah yang memang dikhususkan untuk para wanita penjaja itu. Rupanya tempat itu memang sudah khusus untuk para wanita penjaja itu. Polisi juga sudah tahu sehingga tidak pernah melakukan razia disana.

Harga paling murah untuk ‘barang’ di tempat itu adalah Rp. 50.000,-. Ini karena ‘barang’nya masih asli Indonesia. Jadi masih terbilang cukup murah. Sedangkan ‘barang’ yang dari luar negeri, harganya berkisar mulai Rp.500.000,-. Ada yang china dan ada juga yang blasteran barat.

Aku hanya bisa mengelus dada. Rupanya di Solo banyak sekali para PSK. Mulai dari yang kelas teri sampai kelas kakap. Aku benar-benar tidak habis pikir. Tapi, bagaimanapun, aku tetap tidak bisa menghakimi mereka, meskipun hati ini miris dengan itu semua. Meski aku bukan asli Solo, tapi aku ingin Solo bersih dari para PSK (Pekerja Seks Komersial). Aku berharap suatu saat nanti Solo penuh dengan PSK (Perempuan Sholehah Kerudungan).

Catatan Selly.

“Mau beli apa mau dibeli, Mbak?”

Tanya sosok di hadapanku. Seorang lelaki gemuk dengan wajah yang menurutku penuh aura mesum yang teramat. Ingin rasanya kutampar wajah gembilnya itu. Tapi toh, tidak ada gunanya. Aku hanya diam dan melangkahkan kaki meninggalkan sosok itu meski dengan amarah yang masih sangat menggelayuti hatiku. Bagaimana tidak, aku yang sudah berpakaian serba tertutup dan berjilbab begini, kenapa masih digoda? Apa dia pikir aku ini gadis atas kerudung bawah warung? Aku benar-benar marah!

Ya, inilah aku. Orang-orang memanggilku Selly. Aku memang sudah terbiasa melihat hal-hal yang berkaitan dengan dunia mesum seperti itu. Tapi tetap saja aku jijik, bahkan sangat jijik.

Aku tinggal di Madegondo, Nampan, Grogol Sukoharjo. Rumahku berada di paling ujung, dekat dengan semak-semak dan jalan setapak yang sukup sepi (kalau sedang sepi). Iya, karena di jalanan itu, setiap maghrib menjelang, puluhan PSK sudah berkeliaran mencari para lelaki bejat yang siap mengoyak mahkota mereka. Karena hal itu, ibuku, selalu melarangku dan adik-adikku untuk keluar rumah setelah adzan maghrib.

Pernah suatu hari, aku pulang kesorean. Mau tidak mau, aku melewati jalan tempat para PSK itu. Di tengah perjalanan, aku melihat sesuatu yang tidak seharusnya aku lihat. Seorang PSK tampak melayani seorang lelaki di dalam mobil. Tidak hanya itu saja, aku juga pernah mendengar suara rintihan seorang perempuan dari balik semak-semak di sisi jalan itu dan ternyata suara itu berasal dari seorang PSK yang sedang dinikmati pelanggannya.

“Mbak, ini apa,to?”

Tanya adikku suatu hari saat kami sedang lari pagi. Dia menyodorkan sesuatu kepadaku. Aku terhenyak. Adikku menyodorkan kondom yang sudah dipakai. Aku mengambil kondom itu dari tangannya dan aku melangkahkan kaki menuju semak-semak tempat para PSK bercinta dengan pelanggannya. Benar dugaanku. Banyak sekali kondom dan tissue berceceran disana.

Menjijikkan! Hanya itu yang ada di pikiranku tiap aku melihat para PSK dan pelanggan setianya. Bahkan rasanya aku mau muntah tiap melihat para PSK itu duduk dengan wajah tanpa dosa di teras rumahku. Heran? Tidak percaya? Aku juga heran, tapi ini benar-benar nyata dan terjadi. Para PSK itu selalu berteduh di teras rumahku tiap hujan turun. Bahkan mereka tidak malu-malu lagi untuk berteduh dengan pelanggan mereka.

Pernah suatu malam, aku tidak bisa tidur. Entah mengapa mataku sulit sekali dipejamkan. Sayup-sayup, kudengar suara teriakan seorang perempuan. Seperti sedang ketakutan. Aku memberanikan diri untuk mengintip. Aku benar-benar terkejut, seorang perempuan tengah dikejar dua orang lelaki, seperti dipaksa untuk melayani mereka. Duh, Gusti, aku benar-benar sudah tidak tahan lagi.

Akhirnya aku sekeluarga pindah rumah ke Batik Keris karena kami sudah tidak tahan lagi dengan keadaan disana.

Bicara soal PSK tadi, bagiku, aku tidak akan pernah bisa membenarkan tindakan mereka, apapun alasannya. Meski mereka berkilah karena mereka terpaksa demi kebutuhan ekonomi mereka, aku tetap tidak bisa menerima. Itu bukanlah suatu kebenaran. Itu adalah suatu pembenaran! Kalau mereka mau berusaha, pasti bisa. Kata orang, banyak jalan menuju Roma. Para PSK, aku benar-benar menyayangkan keputusan kalian untuk melacurkan diri.

Kasihan kotaku. Kota nan indah ini rupanya menyimpat cacat yang tak tercatat.

 

Catatan Kiky.

“Pak, tumbas tempurane gangsal ewu.[3]

Kataku pada pedagang tempura di Manahan sore itu.

Aku sudah tidak tahan lagi untuk memendam ngidamku pada makanan yang satu ini. Di Magelang, kota asalku, aku tidak pernah menemui pedagang tempura. Sambil menunggu tempura digoreng, aku melihat sekeliling. Mencoba membaca suasana.

Entah mengapa, pandanganku tertuju pada seorang perempuan berjilbab yang sangat cantik tengah duduk di kursi taman sendirian. Sepertinya dia melamun. Setelah tempuraku matang, aku memberanikan diri untuk duduk di samping perempuan itu. Siapa tahu bisa jadi teman mengobrol.

“Lagi nunggu orang ya, Mbak?”

Tanyaku, sembari menyodorkan tempura di tanganku. Perempuan itu tersenyum dan menganggukkan kepalanya.

“Iya, Mbak,” jawabnya singkat.

Aku merasa perempuan itu sedang sedih. Benarkah dugaanku atau itu hanya perasaanku?

Sejurus kemudian, perempuan itu menundukkan kepalanya dan sayup-sayup terdengar suara isakan darinya. Aku terkejut bukan main. Perempuan itu menangis.

“Mbak, Mbak kenapa?”

Tanyaku. Aku bingung.

“Mbak, apa saya bisa masuk syurga?”

Begitu tanyanya. Aku tersenyum bingung. Mana bisa aku memastikan dia bisa masuk syurga atau tidak. Aku sendiripun tidak tahu apakah aku nanti bisa menjadi salah satu warga syurga atau tidak. Tapi, aku mencoba menjawab pertanyaan perempuan itu.

“Tentu saja siapapun bisa, Mbak,” kataku.

“Kalau menurut Mbak, pelacur yang tetap shalat dan mengaji, bisa masuk syurga tidak?” tanyanya.

Aku terhenyak. Pelacur yang tetap mengaji dan shalat? Memangnya ada?

“Maksud Mbak?” tanyaku.

Perempuan cantik itu kembali menundukkan kepalanya.

“”Saya ini pelacur, Mbak. Saya ini perempuan kotor.”

Katanya lirih. Kali ini aku tidak hanya terhenyak. Aku bahkan merasa seperti tersengat listrik. Wajah ayu dengan balutan jilbab di sampingku, ternyata seorang pelacur. Salahkah pendengaranku?

“Mbak pasti tidak akan percaya karena saya berjilbab. Tapi saya memang benar-benar pelacur, Mbak.”

Isakannya makin terdengar. Beberapa pasang muda mudi yang tengah mengumbar kemesraan lewat di depan kami. Mereka menoleh sejenak. Mungkin melihat atau mendengar perempuan di sampingku menangis.

“Kenapa Mbak jadi pelacur?” tanyaku. Sayang, pertanyaan itu hanya terucap di hatiku. Aku masih dilenakan oleh rasa keterkejutanku.

“Saya tidak punya pilihan lain, Mbak. Suami saya pergi. Padahal saya punya anak kecil yang butuh susu. Harga susu sekarang mahal, Mbak. Saya juga masih harus mengurusi Ibu dan adik-adik saya. Saya tidak punya pilihan lain, Mbak.” Kata perempuan itu di sela-sela tangisnya. Seolah dia bisa mendengar pertanyaan yang tersimpan di hatiku.

Aku masih belum bisa mengeluarkan sepatah katapun.

“Jujur saya takut, Mbak. Saya tahu melacur itu dosa. Saya ingin berhenti tapi tidak bisa. Kebutuhan ekonomi terus mengejar saya. Saya benar-benar takut, Mbak. Makanya saya tetap berusaha menjalankan shalat lima waktu. Juga mengaji dan mengikuti pengajian. Tapi apakah semua itu bisa membuat Gusti Allah memaafkan saya?” Tanyanya. Mutiara-mutiara bening masih terus bercucuran di wajah cantiknya.

“Mbak, Mbak yang sabar, ya. Ini ujian untuk Mbak. Saya yakin Mbak akan menemukan jalan keluar yang…” Suara klakson mobil memotong perkataanku. Tapi sebenarnya bukan karena suara klakson mobil itu perkataanku terhenti, melainkan karena perempuan tadi langsung berdiri setelah mendengar klakson dari mobil Avanza hitam yang tiba-tiba muncul.

Seorang laki-laki dengan wajah oriental  membuka kaca mobil dan memberikan isyarat pada perempuan tadi untuk segera mendekat ke mobilnya.

“Maaf, Mbak. Yang saya tunggu sudah datang.” Begitu katanya dan langsung masuk kedalam mobil lelaki  itu.

Sampai mobil itu menghilang, aku masih tercengang. Seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja aku alami. Ada rasa kesal menggelayuti, namun ada pula keharuan dan kekaguman menyelimuti. Aku kesal, mengapa perempuan itu memutuskan untuk menjual tubuhnya. Tapi aku terharu. Meski dia pelacur, dia tetap rajin beribadah.

Aku menuliskan sesuatu di benakku. Perempuan tadi, terlepas dari dosa melacurkan diri yang dia lakukan, dia tetap PSK (Pekerja Seks Komersial) sekaligus PSK (Perempuan Setangguh Karang). Demi anaknya, demi ibunya, demi adik-adiknya, dia rela mngorbankan dirinya.

Sebait doapun terucap untuknya. Tulus dari hatiku untuknya. Semoga Allah mengampuninya dan segera menunjukkan jalan terbaik baginya. Aku teringat dengan kisah seorang pelacur pada zaman Nabi yang dijanjikan masuk syurga karena menolong anjing yang sekarat. Aku berharap, semoga perempuan tadi juga bisa masuk syurga seperti apa yang diinginkannya, begitu juga semoga akupun bisa masuk syurga.

Mutiara-mutiara bening kini mengalir pelan di pipiku.

Kartasura, Rabu, 13 Juli 2011, 22.09

 

Di tengah deru airmata yang kembali meleleh di pipiku saat anganku melayang, teringat perjumpaanku dengan seorang PSK setangguh Karang di suatu sore di Manahan Februari 2011. Semoga Allah selalu menjagamu, Mbak.

[1] Mas, mau menginap tidak?

[2] Maaf, Pak. Saya tidak paham.

[3] Pak, beli tempuranya lima ribu.

Iklan

About Humaira Fii Hamra

Humaira Fii Hamra ( حميراء فى حمراء) ' Yang Kemerah-merahan dalam merah ' ME...? You want to know who am I? Really? The answer's not on me, but on you. Yeah, you know me better than myself. Don't laugh at me and don't ever say that it's a stupid way of thinking. This is real! When you ask me 'who am I', I'll be just answering you like describing my self when Iam mirroring. You, you can see what I had done, have done, did, and do. Just see them on me, then you'll figure out who am I. Just for a glance, let me introduce myself. Iam an actively moving girl who always try to be better in every single day of my life. Also, I have a thousand (ehm, perhaps a million) dreams that I want to reach. That's me ^_^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s